Wednesday, September 26, 2018

Lebih dekat dengan Bakat


BAKAT DAN FAKTOR PERKEMBANGANNYA

hai Sobat Elektro, kali ini kita akan membahas bakat dari berbagai sudut pandang, termasuk faktor-faktor perkembangannya, baik faktor intern maupun faktor ekstern.
Kadang kita bingung menbedakan antara potensi, pasion, dan bakat itu sendiri, jadi mungkin artikel bang elektro kali ini bakal manfaat banget buat kalian. oke langsung simak aja ya sob... ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜
Hasil gambar untuk child
Teori-Teori Bakat
Sejarah adalah sesuatu yang amat ideal apabila kita dapat memberikan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan bakat peserta didik kita. Masalah bakat adalah masalah yang sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Semenjak dahulu orang sudah berusaha membahas masalah bakat ini. Urgensinya masih tetap aktual sampai saat ini, meski dari kacamata ilmu pengetahuan, hasilnya masih jauh dari memuaskan. Urgensi dalam mengaplikasikan bakat tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan saja, melainkan juga dalam hal pemilihan lapangan kerja (Suryabrata, 1995).

Menurut Crow dan Crow (1989) bakat bisa dianggap sebagai kualitas yang dimiliki oleh semua orang dalam tingkat yang beragam. Bakat juga dapat dianggap sebagai keunggulan khusus dalam bidang perilaku tertentu, seperti musik, matematika atau olahraga. Cattel (dalam Crow dan Crow, 1989) mencoba menemukan perbedaan-perbedaan di antara individu dalam bidang-bidang seperti di bawah ini, yang sebagian besar berhubungan dengan ketajaman sensoris (indra), kekuatan otot dibandingkan dengan kemampuan-kemampuan mental lainnya yang lebih kompleks:
a.       Kekuatan memegang atau menggenggam
b.      Kecepatan gerakan lengan
c.       Dua ambang mata pada belakang tangan
d.      Jumlah tekanan yang diperlukan yang mengakibatkan rasa sakit pada dahi
e.       Perbedaan berat yang tidak begitu kentara
f.        Waktu dalam bereaksi terhadap bunyi
g.      Waktu yang dibutuhkan untuk menyebutkan sepuluh warna
h.      Membagi garis menjadi dua yang masing-masing panjangnya 50 cm
i.        Kemampuan untuk mereproduksi selama jangka waktu 10 detik dengan ketukan setelah itu subjek diminta untuk mengingatnya
j.        Saat mengingat huruf-huruf yang berhubungan dengan pendengaran.
Dalam perkembangan berikutnya, hanya tiga aspek dari kesepuluh tes tersebut di atas yang digunakan untuk mengukur kemampuan-kemampuan khusus dan tes bakat tertentu (Crow dan Crow, 1989).

Dua tokoh penting di dalam sejarah perkembangan pendefinisian bakat yang kemudian dianggap sebagai kemampuan khusus adalah Thordike dan Spearman. Thorndike mengemukakan bahwa individu memiliki tiga jenis intelegensi (abstrak, mekanis, dan sosial), sedangkan Spearman mengemukakan teori mengenai faktor G dan faktor S dalam intelegensi. Usaha-usaha dewasa ini mencoba untuk menemukan atau mengetahui kemampuan atau bakat khusus yang lebih sesuai dengan kondisi individu dalam keikutsertaannya dalam bidang pekerjaan dan pendidikan (Crow dan Crow, 1989).

William B. Michael (dalam Suryabrata, 1995) mendefinisikan bakat sebagai “kapasitas seseorang dalam melakukan tugas, yang sedikit sekali dipengaruhi atau tergantung pada latihan”. Sementara itu Brigham (dalam Suryabrata, 1995) mendefinisikan bakat yang dititik beratkan kepada apa yang dapat dilakukan individu (segi performance/kinerja), setelah individu mendapatkan latihan.

Traxler (dalam Crow dan Crow, 1989) mendefinisikan bakat sebagai kondisi, kualitas, atau sekumpulan kualitas pada diri individu yang menunjukkan kemungkinan sampai dimana dia akan mampu mendapatkan, dengan latihan yang cocok, pengetahuan, keterampilan, atau sekumpulan pengetahuan, pengertian dan keterampilan, seperti kemampuan untuk menyumbangkan diri dalam bidang seni, kemampuan mekanik, kemampuan matematika, atau kemampuan membaca dan berbicara dengan menggunakan bahasa asing.

Woodworth dan Marquis (dalam Suryabrata, 1995) memberikan definisi bakat sebagai prestasi yang dapat diramalkan dan dapat diukur melalui tes khusus oleh karena itu bakat dikategorikan sebagai suatu kemampuan (ability), yang memiliki tiga arti:
1.      Achievement, yang merupakan kemampuan aktual yang dapat diukur dengan alat tes tertentu;
2.      Capacity, yang merupakan kemampuan potensial, yang dapat diukur secara tidak langsung dengan melalui pengukuran terhadap kecakapan individu, dimana kecakapan ini berkembang dengan perpaduan antara dasar dengan latihan yang intensif dan pengalaman;
3.      Aptitude, yaitu kualitas yang hanya dapat diungkap/diukur dengan tes khusus yang sengaja dibuat untuk itu.
Selanjutnya Guilford (dalam Suryabrata, 1995) mendefinisikan bakat dengan corak yang agak berbeda, ia menyatakan bahwa bakat adalah kemampuan kinerja yang mencakup dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual. Masing-masing dimensi tersebut mengandung faktor-faktor psikologis seperti misalnya memori, penalaran, dan sebagainya.

Dari berbagai pendapat para ahli di atas, terbukti bahwa ternyata tidak ada keseragaman dalam mendefinisikan bakat. Meski berbeda, pendapat-pendapat tersebut dapat dianggap saling melengkapi satu sama lain. Jadi, bakat (aptitude) adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilah khusus, misalnya kemampuan berbahasa, bermain musik, melukis, dan lain-lain. Seseorang yang berbakat musik misalnya, dengan latihan yang sama dengan orang lain yang tidak berbakat musik, akan lebih cepat menguasai keterampilan tersebut. Untuk bisa terealisasi bakat harus ditunjang dengan minat, latihan, pengetahuan, pengalaman agar bakat tersebut dapat teraktualisasi dengan baik.

Timbulnya Kebutuhan untuk Mengerti Bakat
Memperhatikan kelebihan atau bakat anak membutuhkan usaha yang serius dan berkesinambungan. Penelusuran dan penjajakan yang dangkal dapat menyesatkan, misalnya: “Saya merasa bakat saya di bidang musik karena saya suka sekali mendengar musik”, “Saya suka travelling dan kelihatannya menyenangkan menjadi pemandu wisata, bisa jalan-jalan makannya saya akan memilih sekolah pariwisata”

Alasan-alasan untuk memilih studi lanjutan sebagaimana contoh di atas tidak cukup kuat, dan membutuhkan penulusuran yang lebih jauh, baik untuk bidang studi yang akan dipilih maupun dari kemampuan, minat serta kepribadian remaja.

Dengan mengembangkan minat dan bakat serta memberikan bimbingan karir sejak dini, remaja akan semakin menyadari mengenai apa yang ia suka dan mampu lakukan, dan akan menjadi lebih jelas pendidikan atau pekerjaan apa yang mungkin akan ditekuninya disertai dengan pemahaman tentang kekuatan dan kelemahannya, sehingga ia bisa menentukan pilihan yang tepat dan menyiapkan diri untuk menggapai mimpinya.

Faktor-faktor Lain yang Mempengaruhi Tampilannya Bakat
Tidak semua manusia memiliki bakat yang sama. Setiap orang yang dilahirkan memiliki bakat yang berbeda, untuk mengembangkan bakat anak ada beberapa yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat dalam mengembangkan bakat anak. Faktor pendorong membuat anak menjadi semangat dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya, namun ada yang menjadi faktor penghambat untuk anak dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya, faktor penghambat akan membuat anak putus asa atas bakat yang telah dimilikinya.
Adapun yang menjadi faktor pendorong anak dalam mengembangkan bakat, antara lain:
1.      Faktor Intern
a.       Faktor Bawaan (Genetik)
Faktor ini merupakan faktor pendukung yang berasal dari orangtuanya atau dapat dikatakan sebagai, anak mendapat pewarisan bakat yang dimiliki oleh ayah dan ibunya.
b.      Faktor Kepribadian
Faktor kepribadian yaitu perkembangan bakat anak yang tergantung pada dirinya sendiri. Apabila dari kepribadiannya sendiri mampu ia kembangkan maka, bukan tidak mungkin ia akan berkembang secara alami. Namun sebaliknya, apabila dari kepribadiannya ia sudah menutup, maka bukan tidak mungkin ia tidak akan berkembang.
2.      Faktor Ekstern
a.       Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan terbagi atas:
1.      Lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan tempat awal untuk mengetahui bakat anak dan menjadikan ajang pelatihan bakat yang ada pada diri anak. Orangtua membimbing anak dalam menggapai bakat.
2.       Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah dapat digunakan untuk anak dalam proses belajar mengajar dan dapat mempengaruhi minat dan bakat anak dikembangkan secara intensif dan guru menjadi tanggungjawab untuk proses pengembangan bakat di sekolah.
3.      Lingkungan sosial
Suatu lingkungan pasti berhubungan dengan banyak orang atau masyarakat. Anak dapat mengembangkannya bersama masyarakat dan bisa bertukar pengalaman dengan masyarakat, sehingga anak lebih berbakat dalam mengembangkannya.

oke, cukup sekian pembahasan bakat kali ini, semoga bermanfaat, kalo ada pertanyaan dan saran silakan comentya sob... monggo banget..

No comments:

Post a Comment

FLOWCHART

oke sobat elektro, kali ini kita akan bahas hal yang paling mendasar dari laporan mata pelajaran pemrograman komputer, yaitu flo...