BAKAT DAN FAKTOR PERKEMBANGANNYA
hai Sobat Elektro, kali ini kita akan membahas bakat dari berbagai sudut pandang, termasuk faktor-faktor perkembangannya, baik faktor intern maupun faktor ekstern.
Kadang kita bingung menbedakan antara potensi, pasion, dan bakat itu sendiri, jadi mungkin artikel bang elektro kali ini bakal manfaat banget buat kalian. oke langsung simak aja ya sob... 😊😍
Teori-Teori Bakat
Sejarah adalah
sesuatu yang amat ideal apabila kita dapat memberikan pendidikan yang
benar-benar sesuai dengan bakat peserta didik kita. Masalah bakat adalah
masalah yang sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Semenjak dahulu orang
sudah berusaha membahas masalah bakat ini. Urgensinya masih tetap aktual sampai
saat ini, meski dari kacamata ilmu pengetahuan, hasilnya masih jauh dari
memuaskan. Urgensi dalam mengaplikasikan bakat tidak hanya terbatas pada bidang
pendidikan saja, melainkan juga dalam hal pemilihan lapangan kerja (Suryabrata,
1995).
Menurut Crow dan
Crow (1989) bakat bisa dianggap sebagai kualitas yang dimiliki oleh semua orang
dalam tingkat yang beragam. Bakat juga dapat dianggap sebagai keunggulan khusus
dalam bidang perilaku tertentu, seperti musik, matematika atau olahraga. Cattel
(dalam Crow dan Crow, 1989) mencoba menemukan perbedaan-perbedaan di antara
individu dalam bidang-bidang seperti di bawah ini, yang sebagian besar
berhubungan dengan ketajaman sensoris (indra), kekuatan otot dibandingkan
dengan kemampuan-kemampuan mental lainnya yang lebih kompleks:
a. Kekuatan memegang atau menggenggam
b. Kecepatan gerakan lengan
c. Dua ambang mata pada belakang tangan
d. Jumlah tekanan yang diperlukan yang mengakibatkan
rasa sakit pada dahi
e. Perbedaan berat yang tidak begitu kentara
f.
Waktu dalam bereaksi terhadap bunyi
g. Waktu yang dibutuhkan untuk menyebutkan sepuluh
warna
h. Membagi garis menjadi dua yang masing-masing
panjangnya 50 cm
i.
Kemampuan untuk mereproduksi selama jangka waktu 10 detik
dengan ketukan setelah itu subjek diminta untuk mengingatnya
j.
Saat mengingat huruf-huruf yang berhubungan dengan
pendengaran.
Dalam perkembangan
berikutnya, hanya tiga aspek dari kesepuluh tes tersebut di atas yang digunakan
untuk mengukur kemampuan-kemampuan khusus dan tes bakat tertentu (Crow dan
Crow, 1989).
Dua tokoh penting
di dalam sejarah perkembangan pendefinisian bakat yang kemudian dianggap
sebagai kemampuan khusus adalah Thordike dan Spearman. Thorndike mengemukakan
bahwa individu memiliki tiga jenis intelegensi (abstrak, mekanis, dan sosial),
sedangkan Spearman mengemukakan teori mengenai faktor G dan faktor S dalam
intelegensi. Usaha-usaha dewasa ini mencoba untuk menemukan atau mengetahui
kemampuan atau bakat khusus yang lebih sesuai dengan kondisi individu dalam
keikutsertaannya dalam bidang pekerjaan dan pendidikan (Crow dan Crow, 1989).
William B. Michael
(dalam Suryabrata, 1995) mendefinisikan bakat sebagai “kapasitas seseorang
dalam melakukan tugas, yang sedikit sekali dipengaruhi atau tergantung pada
latihan”. Sementara itu Brigham (dalam Suryabrata, 1995) mendefinisikan bakat
yang dititik beratkan kepada apa yang dapat dilakukan individu (segi performance/kinerja), setelah individu
mendapatkan latihan.
Traxler (dalam Crow
dan Crow, 1989) mendefinisikan bakat sebagai kondisi, kualitas, atau sekumpulan
kualitas pada diri individu yang menunjukkan kemungkinan sampai dimana dia akan
mampu mendapatkan, dengan latihan yang cocok, pengetahuan, keterampilan, atau
sekumpulan pengetahuan, pengertian dan keterampilan, seperti kemampuan untuk
menyumbangkan diri dalam bidang seni, kemampuan mekanik, kemampuan matematika,
atau kemampuan membaca dan berbicara dengan menggunakan bahasa asing.
Woodworth dan
Marquis (dalam Suryabrata, 1995) memberikan definisi bakat sebagai prestasi
yang dapat diramalkan dan dapat diukur melalui tes khusus oleh karena itu bakat
dikategorikan sebagai suatu kemampuan (ability),
yang memiliki tiga arti:
1. Achievement, yang merupakan kemampuan aktual yang dapat diukur dengan alat tes
tertentu;
2. Capacity, yang merupakan kemampuan potensial, yang dapat diukur secara tidak
langsung dengan melalui pengukuran terhadap kecakapan individu, dimana
kecakapan ini berkembang dengan perpaduan antara dasar dengan latihan yang
intensif dan pengalaman;
3. Aptitude, yaitu kualitas yang hanya dapat diungkap/diukur dengan tes khusus yang
sengaja dibuat untuk itu.
Selanjutnya
Guilford (dalam Suryabrata, 1995) mendefinisikan bakat dengan corak yang agak
berbeda, ia menyatakan bahwa bakat adalah kemampuan kinerja yang mencakup
dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual. Masing-masing dimensi
tersebut mengandung faktor-faktor psikologis seperti misalnya memori,
penalaran, dan sebagainya.
Dari berbagai
pendapat para ahli di atas, terbukti bahwa ternyata tidak ada keseragaman dalam
mendefinisikan bakat. Meski berbeda, pendapat-pendapat tersebut dapat dianggap
saling melengkapi satu sama lain. Jadi, bakat (aptitude) adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih
perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan
keterampilah khusus, misalnya kemampuan berbahasa, bermain musik, melukis, dan
lain-lain. Seseorang yang berbakat musik misalnya, dengan latihan yang sama
dengan orang lain yang tidak berbakat musik, akan lebih cepat menguasai
keterampilan tersebut. Untuk bisa terealisasi bakat harus ditunjang dengan
minat, latihan, pengetahuan, pengalaman agar bakat tersebut dapat
teraktualisasi dengan baik.
Timbulnya
Kebutuhan untuk Mengerti Bakat
Memperhatikan
kelebihan atau bakat anak membutuhkan usaha yang serius dan berkesinambungan.
Penelusuran dan penjajakan yang dangkal dapat menyesatkan, misalnya: “Saya
merasa bakat saya di bidang musik karena saya suka sekali mendengar musik”, “Saya
suka travelling dan kelihatannya menyenangkan menjadi pemandu wisata, bisa
jalan-jalan makannya saya akan memilih sekolah pariwisata”
Alasan-alasan untuk
memilih studi lanjutan sebagaimana contoh di atas tidak cukup kuat, dan
membutuhkan penulusuran yang lebih jauh, baik untuk bidang studi yang akan
dipilih maupun dari kemampuan, minat serta kepribadian remaja.
Dengan
mengembangkan minat dan bakat serta memberikan bimbingan karir sejak dini,
remaja akan semakin menyadari mengenai apa yang ia suka dan mampu lakukan, dan
akan menjadi lebih jelas pendidikan atau pekerjaan apa yang mungkin akan
ditekuninya disertai dengan pemahaman tentang kekuatan dan kelemahannya,
sehingga ia bisa menentukan pilihan yang tepat dan menyiapkan diri untuk
menggapai mimpinya.
Faktor-faktor Lain
yang Mempengaruhi Tampilannya Bakat
Tidak semua manusia
memiliki bakat yang sama. Setiap orang yang dilahirkan memiliki bakat yang
berbeda, untuk mengembangkan bakat anak ada beberapa yang menjadi faktor
pendukung dan faktor penghambat dalam mengembangkan bakat anak. Faktor
pendorong membuat anak menjadi semangat dalam mengembangkan bakat yang
dimilikinya, namun ada yang menjadi faktor penghambat untuk anak dalam
mengembangkan bakat yang dimilikinya, faktor penghambat akan membuat anak putus
asa atas bakat yang telah dimilikinya.
Adapun yang menjadi
faktor pendorong anak dalam mengembangkan bakat, antara lain:
1. Faktor Intern
a. Faktor Bawaan (Genetik)
Faktor ini merupakan faktor pendukung yang berasal dari orangtuanya atau
dapat dikatakan sebagai, anak mendapat pewarisan bakat yang dimiliki oleh ayah
dan ibunya.
b. Faktor Kepribadian
Faktor kepribadian yaitu perkembangan bakat anak
yang tergantung pada dirinya sendiri. Apabila dari kepribadiannya sendiri mampu
ia kembangkan maka, bukan tidak mungkin ia akan berkembang secara alami. Namun
sebaliknya, apabila dari kepribadiannya ia sudah menutup, maka bukan tidak
mungkin ia tidak akan berkembang.
2. Faktor Ekstern
a. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan
terbagi atas:
1. Lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan tempat
awal untuk mengetahui bakat anak dan menjadikan ajang pelatihan bakat yang ada
pada diri anak. Orangtua membimbing anak dalam menggapai bakat.
2. Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah dapat digunakan untuk
anak dalam proses belajar mengajar dan dapat mempengaruhi minat dan bakat anak
dikembangkan secara intensif dan guru menjadi tanggungjawab untuk proses
pengembangan bakat di sekolah.
3. Lingkungan sosial
Suatu lingkungan pasti berhubungan dengan banyak
orang atau masyarakat. Anak dapat mengembangkannya bersama masyarakat dan bisa
bertukar pengalaman dengan masyarakat, sehingga anak lebih berbakat dalam
mengembangkannya.
oke, cukup sekian pembahasan bakat kali ini, semoga bermanfaat, kalo ada pertanyaan dan saran silakan comentya sob... monggo banget..